Chun Doo-Hwan, Mantan Diktator di Korea Selatan Meninggal Dunia

source gambar : dw.com

Setiap negara memiliki sejarah yang unik perihal kepemimpinannya, bahkan tak jarang juga dalam beberapa kasus di sejarah setiap negara juga memiliki sosok pemimpin diktator yang cukup disegani.

Kata pemimpin diktator ditujukan untuk mereka yang memimpin dengan otoritas kebijakan yang bengis dan absolut sehingga sulit untuk digulingkan. Seperti Korea Selatan ini misalnya, jauh sebelum negara Korea Selatan maju seperti saat ini, ada masa dimana negara tersebut berada ditangan seorang diktator yang cukup pelik.

Berita korea Selatan pernah dipimpin oleh sosok bernama Chun Doo-hwan, yang menjabat sebagai presiden sejak 27 Agustus 1980 sampai 24 Februari 1988. Chun Doo-hwan merupakan seorang jendral militer Korea Selatan yang pada awal masa pelantikannya sebagai pemimpin negara dikarenakan kekuasaan setelah kudeta pasca-pembunuhan Presiden Park Chung-hee pada tahun 1979.

Chun Doo-Hwan merupakan presiden ke 5 Korea Selatan dengan masa kepemimpinan yang cukup ketat karena diperkuat dengan orang militer. Chun Doo-hwan yang merupakan seorang politikus sekaligus jendral Angkatan Darat Republik Korea jelas memiliki kepemimpinan otoriter yang kuat.

Selama delapan tahun menjabat, Chun Doo-hwan dikenal sebagai penguasa yang kerap menghancurkan lawan politiknya, hingga akhirnya diakhir masa jabatannya ia digulingkan tanpa ada perlawanan, disusul dengan pergerakan demokrasi nasional yang dipimpin mahasiswa di tahun 1978 untuk menuntut pemilihan presiden dengan sistem pemilihan langsung.

Tepat pada Selasa, 23 November 2021 kemarin, Chun Doo-hwan meninggal di usia 90 tahun di kediamannya kota Seoul. Semasa pemerintahannya, Chun Doo-hwan mendapatkan julukan ‘Jagal Gwangju” karena insiden dimana ia membantai habis para aktivis yang menentang rezimnya, dimana sebagian besar merupakan rakyat daerah Gwangju yang diperkirakan lebih dari 200 orang tewas dalam insiden tersebut.

Pada tahun 1996. Chun Doo-hwan sempat dijatuhkan hukuman mati akibat kasus itu, akan tetapi dibatalkan karena pengajuan banding dan grasi presiden. Sayangnya hingga akhir hayatnya, Chun Doo-hwan tidak meminta maaf atas insiden pilu di Gwangju dan menganggap hal tersebut hanyalah ‘kerusuhan’.

Hal ini juga didukung dengan para politisi sayap kanan yang berpihak pada pemerintahan Chun Doo-hwan dan menganggap bahwa insiden tersebut bukanlah tanggung jawab mereka. Dimasa kerusuhan tersebut juga korban tewas maupun hilang dalam pembantaian tidak diketahui pasti berapa jumlahnya namun diperkirakan lebih dari yang disebutkan oleh pemerintahan.

Setelah insiden gulingnya Chun Doo-hwan, di tahun 1995 Chun Doo- hwan didakwah dengan penghianatan, penyuapan, dan pemberontakan atas  kenaikan masa jabatannya yang ilegal sehingga menyebabkan kerugian warga negara, serta insiden pembantaian di Gwangju. Di tahun 1996 ia bersama rekan presiden Korea Selatan setelahnya yaitu Roh Tae-woo divonis hukuman mati namun dibatalkan.

Chun Doo-hwan lahir pada tanggal 6 Maret 1931 di Yulgok-Myeon yang merupakan kota pertanian miskin. Chun Doo-hwan yang merupakan putra keempat dari sepuluh saudaranya itu tumbuh bersama kakak laki-lakinya yang tersisa.

Di masa sekolah menengah, ia bergabung di militer dan menjadi komandan pada tahun 1979. Meskipun begitu, di masa jabatannya Chun Doo-hwan memberikan banyak kontribusi kepada Korea Selatan untuk memajukan negaranya seperti menciptakan sejarah karena mengamankan Olimpiade Seoul 1988, hingga memberikan peningkatan ekonomi di Korea Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *