'Fun Offroad' Bandung Utara

‘Fun Offroad’ Bandung Utara

‘Fun Offroad’ Bandung Utara

‘Fun Offroad’ Bandung Utara

duamata.my.id-Maklum, sebelum memenuhi undangan tersebut, penulis belum mencicipi perjalanan dengan kendaraan jip dengan menyusuri jalan berliku, terjal, berlumpur, dan sesekali menerobos semak-semak.

Bayangan-bayangan ketegangan menyeruak di kepala seperti bunyi mesin yang mender. Kendaraan yang terjebak dalam kubangan lumpur. Serta kendaraan yang oleng pada derajat ekstrim.

Bayangan-bayangan itu memang menegangkan. Akan tetapi, mungkin cukup setimpal dengan kepuasan dan kesenangan yang didapat.

Apalagi, penulis tidak mengemudikan langsung kendaraan tersebut. Tetapi, hanya cukup duduk manis di samping sang pengemudi Ketua LRCB Bandung Arie Yashar Yusuf.

Menurut dia, perjalanan ini bukan perjalanan super ekstrim. Meskipun bernama fun offroad, rasa tegang tetap saja terasa ketika Land Rover Seri III produksi 1974 bersasis panjang, siap mengangkut kami.

Kendaraan tersebut diparkir pada sebuah jalan dengan tanjakan mencapai 40 derajat—45 derajat. Rasa kecut pun sempat muncul di benak penulis, “Belum apa-apa kok sudah nanjak”.

Perjalanan dimulai usai melaksanakan Shalat Jum’at di Ciwangun Indah Camp (CIC) di Parongpong Kabupaten Bandung Barat, menuju hutan Sukawana dan berakhir di Cikole Lembang, sepanjang 12 km.

Penulis tidak sendirian dalam perjalanan itu, tetapi ada sembilan orang wartawan lainnya yang turut dalam perjalanan tersebut.

Di belakang mobil kami, ratusan orang dari sebuah perusahaan asuransi sedang menunggu jemputan untuk menumpang kendaraan serupa.

“Pada akhir pekan liburan panjang, jadwal memang sudah penuh,” kata Arie.

Kunci starter pun di putar. Semua awak masuk ke dalam. Sang pengemudi keluar sebentar untuk memeriksa kondisi ban dan kunci penggerak roda depan.

Kendaraan mulai merangkak perlahan, melahap medan terjal sekitar 50 meter ke depan. Dengan degup jantung yang agak kencang, sesekali pula, saya menengok lautan manusia di bawah yang sebagian besar orang-orang Jakarta, sedang menunggu jemputan kendaraan yang sama.

“Wisata ini memang ditujukan untuk orang-orang perkotaan yang sangat jarang bermain dengan lumpur,” kata sang pengemudi.

Satu tahapan awal terlewati. Pengemudi pun mengalihkan gear 1 ke 2 dan seterusnya ke gear 3, karena kondisi jalan yang relatif datar dengan lebar sekitar 3 meter–4 meter, melalui perkebunan dan perumahan masyarakat.

Tidak berapa lama, jalan pun mulai masuk perkebunan teh yang nampak “buruk”. Pada jalur-jalur tertentu, memang ada dua pilihan jalan. Satu lajur terlihat cukup landai dan berbatu. Akan tetapi, pada lajur lainnya nampak jalan amblas belasan centimeter dan berlumpur.

Pengemudi pun mengambil jalan yang amblas dan berlumpur dengan menancap pedal gas kuat-kuat. Kendaraan oleng karena muka jalan yang tidak rata. Penumpang pun sontak berteriak dan saling berpegangan yang diwarnai dengan derit bunyi bodi kendaraan yang menghantam dinding tanah.

“Ini satu ciri khas wisatanya. Di depan masih banyak jalan yang lebih menantang,” kata sang pengemudi.

Perjalanan pun dilanjutkan. Rasa tegang sekaligus menantang terus menyelimuti penulis ketika kendaraan kembali harus meraung-raung dan oleng mengatasi jalan yang terjal.

Akan tetapi, rasa takut perlahan pudar karena mungkin sudah agar terbiasa kondisi seperti.

“Sebetulnya, rute ini yang sangat biasa dan aman bagi masyarakat biasa. Di sini sebetulnya ada medan yang ekstrim. Tetapi, kalau untuk wisata cukup menggunakan seperti ini demi keamanan penumpang,” kata pengemudi.

Pada se-perempat perjalanan, kami pun di bawa ke sebuah tempat istirahat berupa lapangan rumput yang cukup luas.

Pada tepi lapang di kawasan tersebut, terlihat pemandangan di bawah kaki Gunung Tangkuban Parahu yang kami daki adalah Kecamatan Parongpong yang sudah cukup padat pemukiman.

“Kalau sambil berkemah terlebih dahulu, mungkin akan jauh menyenangkan”.

Kawasan ini memang merupakan salah satu tujuan utama wisata fun offroad. Usai ber-offroad, biasanya rombongan wisata langsung menuju Sari Ater, untuk ber-spa ria, atau berendam air panas. Setelah itu, bisa langsung meluncur ke Bandung kota, untuk berbelanja.

Dia mengatakan sebetulnya ada kawasan-kawasan lain yang menjadi pilihan wisata offroad di Bandung, seperti di bagian selatan.

Bahkan di bagian selatan, pewisata bisa menjajal medan offroad dengan dilanjutkan dengan mengarungi arung jeram serta ber-camping ground. “Banyak pilihan arung jeram seperti lokasi di Palayangan Pangalengan,” katanya.

Dalam memandu wisata tersebut, komunitas biasanya menjalin kerja sama dengan biro perjalanan wisata. Akan tetapi, komunitas seringkali pula mengantarkan konsumen secara mandiri untuk berwisata.

Tarif wisata untuk perjalanan offroad dipatok antara Rp600.000—Rp750.000 per kendaraan.

“Kalau paket wisata dari biro, kami hanya menerima uang angkutan saja. Atau istilahnya kami hanya ngojek,” kata Arie.

Dia mengatakan puluhan kendaraan anggota LRCB dari sekitar 400 anggota klub, memang cukup sibuk memenuhi permintaan akhir pekan.

Perjalanan pun dilanjutkan karena memang hari sudah mulai beranjak petang. Ayo, kebut Mang!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published.