Pabrikan pacu produksi mobil

Pabrikan pacu produksi mobil

Pabrikan pacu produksi mobil

 

duamata.my.id-Pabrikan pacu Produksi mobil di Indonesia ditargetkan melonjak 47,98% menjadi 1,24 juta unit dengan estimasi nilai produksi Rp250 triliun dalam 3 tahun men datang.

Lonjakan produksi diharapkan dapat terealisasi menyusul kapasitas terpasang yang pada saat ini dinilai sudah tak layak memenuhi seluruh permintaan yang setiap tahun rerata bertumbuh 26,09% terhitung sejak 2006.

Dengan realisasi produksi pada tahun lalu sebesar 837.948 unit, kapasitas terpasang yang termanfaatkan (utilisasi) di industri mobil nasional telah mencapai 93,11% dari total kapasitas saat ini sebesar 900.000 unit per tahun.

Dengan memperhitungkan tingkat permintaan yang pada tahun ini diprediksi menembus 957.000 unit, kapasitas terpasang selama ini diyakini tak lagi mampu memenuhi seluruh permintan di pasar domestik.

“Itulah sebabnya pemerintah mendorong para prinsipal berinvestasi lebih besar [untuk menambah kapasitas produksi]. Dalam hal ini, pemerintah telah menyiapkan paket kebijakan industri otomotif yang jelas dan terarah,“ kata Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian Budi Darmadi kepada Bisnis, baru-baru ini.

Sampai dengan tahun ini, total investasi baik berupa komitmen maupun realisasi dari kalangan prinsipal untuk penambahan kapasitas, riset dan pengembangan, pabrik komponen hingga jaringan pemasaran, diperkirakan menembus US$2 miliar.

Beberapa investasi tersebut di antaranya datang dari Suzuki senilai US$780 juta, Toyota sekitar US$450 juta, Daihatsu di atas US$200 juta, Nissan US$312,5 juta, Mitsubishi Rp250 miliar, dan sejumlah prinsipal otomotif Eropa seperti BMW senilai Rp100 miliar serta beberapa prinsipal AS.

Budi menyatakan investasi otomotif yang masuk tersebut sejalan dengan proposal pemerintah yang tersusun dalam road map industri kendaraan bermo tor 2011­2025. Dengan investasi baru itu, kapasitas terpasang pabrik mobil bisa bertambah di atas 500.000 unit per tahun.

Faktor penekan Sebagai faktor penekan, ujarnya, pemerintah memprioritaskan paket kebijakan proyek mobil harga terjangkau dan minim pencemaran emisi (low cost and green car/LCGC) untuk dilaksanakan seluruh prinsipal.

Dalam beberapa tahun mendatang, Indonesia ditargetkan menjadi basis produksi LCGC terbesar di kawasan Asean dengan volume produksi berkisar 150.000 ­ 200.000 unit per tahun.

“Pada masa depan, kendaraan yang dibuat harus akrab lingkungan, hemat bahan bakar, dan relatif murah. Meski murah, teknologi yang diterapkan harus lebih maju terutama untuk pembuatan engine yang semakin ringan dan canggih dengan bahan baku berbasis aluminium casting,“ katanya.

Untuk mendukung rencana tersebut, pemerintah akan memfasilitasi investasi dan pengembangan industri komponen otomotif untuk menguasai teknologi power train (teknologi sistem penggerak) yang antara lain terdiri dari pembuatan engine, transmisi, hingga axle untuk LCGC. “Dalam waktu 6 tahun, Indonesia ditargetkan mandiri dari aspek teknologi power train,“ tuturnya.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto mengatakan sebagai negara yang semakin diperhitungkan di Asean untuk sektor otomotif, Indonesia harus bisa mandiri dari sisi riset dan teknologi.

“Setiap agen tunggal pemegang merek (ATPM) di Indonesia secara bertahap telah memulai proses aplikasi teknologi power train. Ini sangat positif untuk mendorong tercapainya penyerapan tingkat kandungan lokal pada level optimal,“ katanya.

Untuk mobil jenis MPV, terangnya, komponen lokal yang telah dibuat di antaranya permesinan, body parts, rem, suspensi, sebagian komponen transmisi dan axle dan beberapa komponen universal seperti aki, sabuk pengaman serta jok.

Leave a Reply

Your email address will not be published.